CARAPANDANG.COM - Ditengah tren “kesalehan lahiriah”, hati nurani kita mengingatkan bahwa standar kemuliaan di sisi Allah adalah ketulusan hati yang membuahkan transformasi perilaku dari maksiat menuju ketaatan yang berkelanjutan.
Pagi ini th 1447 H, bumi bergema bukan karena gempa, melainkan karena getaran takbir yang membahana dari lisan hamba-hamba-Nya yang beriman. Kita berdiri di sebuah ambang pintu yang kita sebut sebagai “Hari Kemenangan”. Namun, di tengah hamparan pakaian baru, hidangan yang lezat, dan senyum yang merekah, mari kita sejenak menarik diri dari keriuhan fisik ini. Mari kita bertanya pada lubuk hati yang paling dalam: Siapakah pemenang yang sejati itu?
Mari kita renungkan sebuah tamparan spiritual yang sangat keras dari seorang ulama besar, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, dalam kitabnya “Lathāif al-Ma’ārif”. Beliau menuliskan kalimat yang seharusnya membuat bulu kuduk kita merinding: “Hari raya bukanlah bagi orang yang berpakaian baru, tapi hari raya adalah bagi orang yang ketaatannya bertambah. Hari raya bukanlah bagi orang yang berhias dengan pakaian dan kendaraan, tapi hari raya adalah bagi orang yang dosa-dosanya diampuni.”