Selain itu, negara-negara BRICS sepakat memperkuat pelindungan dan promosi sistem pengetahuan tradisional melalui partisipasi masyarakat, serta meningkatkan kerja sama antar-museum, perpustakaan, arsip, pusat manuskrip, dan institusi kebudayaan lainnya.
Deklarasi negara-negara BRICS juga menyatakan bahwa kebudayaan perlu dipertimbangkan sebagai tujuan tersendiri dalam kerangka pembangunan internasional pada masa mendatang.
"Komitmen yang telah disepakati perlu diterjemahkan menjadi langkah konkret, berkelanjutan, dan saling menguntungkan. Kerja sama BRICS harus menjadi jembatan yang menghubungkan para kreator, masyarakat, institusi, dan generasi mendatang," kata Fadli.
XI BRICS Culture Ministers’ Meeting dihadiri oleh utusan India, Indonesia, Afrika Selatan, Uni Emirat Arab, Brasil, Etiopia, Tiongkok, Rusia, dan Iran serta perwakilan Kuba, Belarus, Thailand, dan Kazakhstan selaku negara mitra BRICS.
Pertemuan itu merupakan bagian dari rangkaian BRICS Culture Track 2026 yang mencakup pembahasan industri budaya dan kreatif, hak cipta dan kecerdasan artifisial, pelindungan warisan budaya dan pengembalian benda budaya, serta kebudayaan dan pembangunan berkelanjutan.
Melalui BRICS, Indonesia terus mendorong diplomasi kebudayaan yang lebih strategis dan kerja sama internasional yang memberikan manfaat nyata bagi seniman, kreator, pelaku budaya, institusi, dan masyarakat.