CARAPANDANG - Pemerintah Chile menetapkan status darurat (state of catastrophe) di wilayah utara setelah hujan ekstrem mengguyur kawasan gurun Coquimbo dan Atacama sejak pekan lalu, menewaskan sedikitnya 10 orang.
Direktur layanan darurat nasional SENAPRED, Alicia Cebrian, mengungkapkan bahwa selain korban jiwa, bencana ini juga menyebabkan 17 orang luka-luka dan empat orang dilaporkan hilang.
Lebih dari 2.200 rumah hancur atau rusak parah, mengakibatkan sekitar 2.400 orang kehilangan tempat tinggal dan lebih dari 100.000 orang terisolasi akibat jalan terputus.
Presiden Jose Antonio Kast mengumumkan penetapan status darurat pada Senin (20/7) setelah meninjau kondisi yang semakin serius.
"Semua sumber daya material dan ekonomi tersedia untuk menghadapi keadaan darurat ini," ujar Kast dalam pernyataannya.
Status ini mengizinkan pemerintah mengerahkan militer untuk operasi penyelamatan, membatasi kebebasan bergerak, dan mempercepat mobilisasi bantuan bagi warga terdampak.
Wakil Menteri Dalam Negeri Maximo Pavez menyebut curah hujan yang terjadi pada Minggu (19/7) sebagai fenomena "abnormal dan ekstrem".
"Apa yang biasanya turun dalam satu bulan, turun dalam satu jam," katanya.
Kawasan La Serena dan sekitarnya dilaporkan terendam banjir besar, sungai meluap, dan akses jalan lumpuh total.
Gangguan pasokan air bersih dan listrik turut memperparah kondisi, dengan sekitar 150.000 orang masih belum mendapat aliran listrik.