Kekhawatiran ini langsung direspons negatif oleh pasar saham. Indeks S&P 500 ditutup turun 1,3%, sementara Nasdaq yang padat teknologi jatuh 1,6% di tengah ketakutan investor bahwa biaya energi yang tinggi akan menggerus margin keuntungan perusahaan.
Respon bank sentral pun menjadi sorotan. Federal Reserve (The Fed) kini menghadapi dilema kebijakan yang sulit. Di satu sisi, inflasi yang terdorong harga minyak menghambat pemotongan suku bunga.
Di sisi lain, pelemahan pasar tenaga kerja memberikan tekanan agar The Fed menurunkan biaya pinjaman untuk merangsang ekonomi.
Meskipun ada kekhawatiran pasar, Gubernur The Fed Christopher Waller mencoba meredam kecemasan dengan menyatakan bahwa dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi kemungkinan hanya bersifat sementara.
"Kami mengantisipasi dampak harga ini akan relatif singkat," ujar Waller.
Namun, Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi memberikan peringatan keras. Ia mengatakan bahwa jika perang berlarut-larut, hal itu dapat menghancurkan ekonomi global dan harga minyak berpotensi melonjak hingga 150 dolar AS per barel.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump melalui media sosialnya kembali menegaskan bahwa AS hanya akan menerima penyerahan tanpa syarat dari Iran, yang semakin memperpanjang ketidakpastian pasar.