Rasulullah ﷺ juga menegaskan dimensi spiritual ini dalam sebuah hadis: “Sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging; jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, itu adalah hati.” Hadis ini menegaskan bahwa inti dari kehidupan manusia adalah hati, bukan sekadar tubuh yang bergerak di dunia material.
Dalam praktiknya, tasawuf tidak mengajarkan meninggalkan dunia secara total, tetapi menata hati agar tidak diperbudak oleh dunia. Seorang sufi tetap bekerja, belajar, dan berinteraksi sosial, namun hatinya tidak terikat secara berlebihan. Ia menjadikan dunia sebagai ladang amal, bukan tujuan akhir. Dengan cara ini, tasawuf menjadi keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara lahir dan batin.
Di era modern, krisis makna hidup semakin nyata. Banyak orang merasa kosong meskipun memiliki segalanya. Tasawuf menjawab kekosongan ini dengan mengembalikan manusia kepada fitrahnya: bahwa ketenangan sejati tidak ditemukan di luar, tetapi di dalam hati yang mengingat Allah. Allah berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ayat ini menjadi inti psikologi spiritual dalam tasawuf bahwa dzikir adalah terapi jiwa paling dalam bagi kegelisahan manusia.