Selain memamerkan produk, kelompok tani tersebut juga memperkenalkan proses pengolahan kakao, mulai dari pemanenan buah, fermentasi, penyangraian (roasting), hingga menjadi cokelat batangan.
Menurut Dwi, kelompoknya juga mengembangkan berbagai produk turunan kakao, seperti dodol cokelat, ampyang cokelat, serta bolu kelapa cokelat hasil kolaborasi dengan desa wisata.
Ia menjelaskan kelompok tani Kakao Sidodadi memiliki sekitar satu hektare tanaman kakao yang tersebar di lahan pekarangan dan tegalan milik anggota.
"Kurang lebih satu hektare, tetapi tersebar di lahan milik anggota, bukan berada dalam satu kawasan," ujarnya.
Kelompok tersebut beranggotakan 54 orang dengan kepemilikan sekitar 50 hingga 200 pohon kakao di setiap rumah dengan intensitas panen dilakukan setiap Sabtu yang menghasilkan sekitar lima hingga 10 kilogram per pekan.
Dwi mengatakan produk olahan kakao hasil kelompok tani telah dipasarkan melalui berbagai saluran, termasuk bekerja sama dengan pusat oleh-oleh di Yogyakarta dan dinas terkait agar dapat dipasarkan di gerai oleh-oleh Bandara Yogyakarta International Airport (YIA).
"Kami juga bekerja sama dengan pusat oleh-oleh dan dinas terkait agar produk bisa dipasarkan di gerai oleh-oleh Bandara YIA," katanya.
Ia menambahkan kelompok tani tersebut mampu memproduksi sekitar 200 hingga 500 produk olahan kakao per hari di luar pesanan khusus.