Namun, jika ditarik ke gambaran yang lebih panjang, tren permintaan China sebenarnya tidak sekuat lonjakan jangka pendek tersebut.
Sepanjang 2025, impor batu bara China justru turun 9,6% menjadi sekitar 490 juta ton, masih di bawah rekor impor tahun 2024.
Bahkan, laporan dari lembaga swasta mencatat produksi listrik berbasis batu bara di China dan India sama-sama menurun pada 2025. Ini menjadi penurunan bersamaan pertama dalam 50 tahun terakhir, seiring kedua negara tersebut mencatat penambahan kapasitas energi bersih pada level rekor.
Dari sisi pasokan, sentimen tambahan datang dari Indonesia. Pemerintah menyepakati pengetatan suplai melalui persetujuan RKAB 2026, yang sekaligus menandai kembalinya mekanisme persetujuan RKAB tahunan, menggantikan skema tiga tahunan sebelumnya.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyetujui penurunan target produksi batu bara nasional menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026, turun sekitar 24% atau hampir 200 juta ton dibandingkan realisasi produksi 2025 yang mencapai 790 juta ton. dilansir cnbcindonesia.com