Vice President sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan kenaikan minyak dan data inflasi AS yang masih panas membuat dolar AS kembali menguat. Kondisi itu memberi tekanan pada emas karena logam mulia menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Indeks dolar AS dilaporkan naik sekitar 0,3% pada perdagangan Kamis. Penguatan dolar biasanya membuat permintaan emas global melambat, terutama dari investor non-AS.
Data inflasi AS memang sedang menjadi perhatian utama. Kenaikan harga produsen dan konsumen sepanjang April memperkuat pandangan bahwa The Fed belum punya ruang cukup untuk memangkas suku bunga agresif tahun ini.
Pasar sebelumnya sempat berharap penurunan suku bunga bisa dimulai lebih cepat setelah perlambatan ekonomi AS mulai terlihat pada kuartal pertama. Namun reli minyak dan inflasi energi membuat proyeksi itu berubah cepat hanya dalam beberapa hari.
Bagi emas, situasi ini cukup rumit. Secara historis, emas sering diburu ketika inflasi naik atau ketidakpastian geopolitik membesar. Namun di sisi lain, suku bunga tinggi membuat instrumen berbunga seperti obligasi AS kembali menarik sehingga arus dana keluar dari emas mulai terlihat. dilansir cnbcindonesia.com