Sejak konflik dimulai, harga emas berada di bawah tekanan akibat lonjakan harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi dan ekspektasi suku bunga tetap tinggi.
Meski emas biasanya dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, daya tariknya cenderung melemah saat suku bunga tinggi karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Data penting minggu ini mencakup laporan tenaga kerja ADP pada Rabu dan payroll AS pada Jumat. Pasar akan mencermati data tersebut untuk mencari petunjuk arah kebijakan Federal Reserve.
Data terbaru menunjukkan lowongan pekerjaan AS naik lebih tinggi dari perkiraan pada April, meski perekrutan melambat akibat ketidakpastian ekonomi yang masih berlangsung.
Commerzbank memperkirakan harga emas berada di US$4.800 per troy ounce pada akhir tahun ini, turun dari proyeksi sebelumnya US$5.000. Namun bank itu tetap mempertahankan proyeksi US$5.200 pada akhir 2027 dan menilai faktor fundamental pendukung emas masih kuat.
"Selain penurunan proyeksi harga emas, lemahnya permintaan industri terhadap perak juga mengindikasikan harga perak yang sedikit lebih rendah," tulis Commerzbank. dilansir cnbcindonesia.com