CARAPANDANG - Harga emas dan perak diperkirakan masih bergerak di bawah tekanan pada pekan ini. Sejumlah sentimen besar mulai dari rapat bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed), penguatan dolar AS, lonjakan harga minyak, hingga tensi geopolitik Iran diperkirakan menjadi penentu arah logam mulia.
Mengacu Refinitiv, harga emas pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (24/4/2026), naik tipis 0,34%. Namun secara mingguan, emas masih terkoreksi sekitar 2,5%, menandakan tekanan jual belum sepenuhnya reda.
Memasuki awal pekan ini, harga emas langsung ambruk. Pada Senin (27/4/2026) pukul 06.27 WIB, harga emas ada di US$ 4679,32 per troy ons atau jatuh 0,62%.
Pergerakan emas kembali volatil setelah sebelumnya gagal menembus level psikologis US$5.000 per troy ons. Dalam beberapa pekan terakhir, harga emas tercatat bergerak di kisaran tinggi US$4.800-an hingga rendah US$4.700-an.
Analis Saxo Bank menilai harga emas masih terjebak dalam tarik-menarik antara permintaan aset aman (safe haven), kekuatan dolar AS, dan perkembangan geopolitik terkait Iran.
Meski investor masih memanfaatkan pelemahan harga untuk akumulasi, belum terlihat arus beli besar-besaran seperti saat reli sebelumnya. Hal ini membuat pasar menjadi lebih sensitif dan sulit ditebak.
Pandangan hati-hati juga datang dari Morgan Stanley. Bank investasi tersebut memangkas target harga emas semester II-2026 menjadi US$5.200 per troy ons dari sebelumnya US$5.700.