Kedua, religiusitas, yaitu penguatan nilai-nilai keagamaan, keikhlasan, dan kepercayaan umat. Faktor ini menjadi modal sosial yang sangat penting dalam menggerakkan partisipasi masyarakat untuk berdonasi.
Ketiga, digital fundraising. Menurutnya di era digital, lembaga harus mampu memanfaatkan teknologi, baik melalui aplikasi dan website yang dikembangkan sendiri maupun dengan berkolaborasi bersama platform pembayaran dan donasi digital seperti Kitabisa, GoPay, OVO, DANA, ShopeePay, dan LinkAja.
Selanjunjutnya keempat, reputasi lembaga. Menurut Faozan, reputasi merupakan aset yang dibangun dalam waktu panjang melalui konsistensi kinerja, transparansi, dan akuntabilitas. Semakin baik reputasi lembaga, semakin tinggi tingkat kepercayaan masyarakat.
“Kelima, dukungan tokoh publik, baik tokoh agama maupun figur publik yang memiliki pengaruh luas di masyarakat. Kehadiran mereka dapat meningkatkan efektivitas kampanye sosial dan mendorong partisipasi donator,” ujarnya menambahkan.
Bagi Faozan Amar, yang merupakan Doktor Ilmu Manajemen, masa depan organisasi nirlaba akan sangat ditentukan oleh kemampuannya beradaptasi dengan teknologi, menjaga kepercayaan publik, dan membangun kolaborasi yang luas.
“Di situlah letak kunci keberhasilan penghimpunan dana sosial yang berkelanjutan,”katanya.