CARAPANDANG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan resmi terkait potensi musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Peringatan ini didasarkan pada hasil pemantauan dinamika iklim global dan regional terbaru.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa saat ini kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) masih berada pada fase netral. Namun, indikasi penguatan menuju fenomena El Nino perlu diwaspadai karena dapat memperparah musim kemarau yang sudah diprediksi lebih kering.
"Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering," ujar Faisal dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
BMKG memproyeksikan sekitar 46,5 persen wilayah Zona Musim (ZOM) di Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal dari normalnya, dimulai pada periode April-Mei 2026.
Sebanyak 57,2 persen wilayah diprediksi akan mengalami durasi kemarau yang lebih panjang, dengan puncak musim kering diperkirakan terjadi pada bulan Agustus 2026 .
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan bahwa peluang kemarau kering semakin besar seiring potensi berkembangnya fenomena El Nino pada semester kedua tahun 2026.