BMKG menyatakan gempa ini merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas deformasi kerak bumi dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
Guncangan gempa dirasakan sangat kuat selama 10 hingga 20 detik di Kota Bitung dan sekitarnya, serta dirasakan kuat di Kota Ternate, Maluku Utara, yang menyebabkan masyarakat panik dan berhamburan keluar rumah.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan dampak awal berupa kerusakan ringan hingga sedang. Di Kota Ternate, satu unit tempat ibadah di Kecamatan Pulau Batang Dua serta dua rumah di Kelurahan Ganbesi, Kecamatan Ternate Selatan mengalami kerusakan.
Sementara itu di Kota Bitung, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat empat kecamatan terdampak: Maesa, Matuari, Madidir, dan Lembeh Utara. Dinding Kantor Wali Kota Bitung lantai 4 runtuh akibat gempa, demikian pula Kantor BPBD Bitung mengalami kerusakan dinding rubuh.
Dua rumah warga di Kelurahan Bitung Barat Dua, Kecamatan Maesa dilaporkan rusak dengan dinding rubuh. Plafon Gereja GMIM Petra di Kelurahan Wangurer Barat, Kecamatan Madiri juga runtuh akibat guncangan.
Sejumlah warga melaporkan fenomena surutnya air laut saat gempa terjadi. "Sesaat kejadian gempa, kondisi air laut mengalami surut ± 7-10 meter dari tepian pantai," demikian laporan masyarakat sekitar Pantai Girian Bawah yang dikutip BPBD Bitung.