Mata uang di Asia seperti won Korea, juga melemah sebesar 2,46 persen, dan peso Filipina turun sebesar 1,04 persen. BI menegaskan akan konsisten dengan kebijakan stabilisasi untuk menjaga nilai tukar rupiah.
"Stabilisasi dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika. Sedangkan intervensi di pasar domestik dilakukan melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder," kata Erwin menjelaskan.
Advertisement
Di sisi lain, tambah Erwin, aliran masuk modal asing yang berlanjut akan menjadi penopang stabilitas niai tukar rupiah. Berdasarkan catatan BI, aliran modal asing utamanya masuk melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham.
Secara neto, aliran masuk modal asing melalui instrumen tersebut mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026. Selain itu premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun berada pada level rendah, sekitar 72 basis poin.
"CDS yang rendah menunjukkan persepsi investor global terhadap Indonesia tetap positif," ucap Erwin. BI juga menyebut, ketahanan eksternal tetap baik tecermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025.
Posisi cadangan devisa pada Desember 2025 tercatat sebesar USD156,5 miliar. Jumlah itu setara dengan 6,4 bulan impor, dan menurut BI memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global.