CARAPANDANG - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa impor minyak mentah (crude oil) dari Amerika Serikat (AS) sebagai bagian dari upaya diversifikasi pasokan energi telah dimulai. Pengalihan impor ini dilakukan untuk merespons eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi minyak dunia.
"Sekarang sudah mulai berjalan. Bertahap, ya, bertahap," ujar Bahlil kepada awak media usai acara buka bersama di Kantor Kementerian ESDM, seperti dikutip Antaranews, Rabu (4/3) malam.
Menurutnya, impor tidak dapat dilakukan dalam volume besar sekaligus karena terbatasnya kapasitas fasilitas penyimpanan (storage) minyak mentah yang dimiliki Indonesia saat ini.
Pernyataan ini menindaklanjuti rencana pemerintah yang sebelumnya diumumkan untuk mengalihkan sebagian impor minyak dari Timur Tengah ke AS.
Langkah tersebut diambil menyusul memanasnya situasi geopolitik setelah serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada akhir pekan lalu yang memicu penutupan efektif Selat Hormuz.
Sekitar 20-25 persen impor minyak mentah Indonesia sebelumnya melewati jalur selat tersebut.
Untuk mengatasi keterbatasan penyimpanan dan memperkuat ketahanan energi, pemerintah saat ini tengah mendorong percepatan pembangunan fasilitas storage baru.
Bahlil menargetkan pembangunan yang berlokasi di Sumatera ini dapat dimulai pada tahun 2026 setelah proses studi kelayakan (feasibility study) rampung.