Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa pihaknya tidak menginginkan perang, namun mengisyaratkan Tehran tidak bisa tunduk pada tuntutan AS.
"Sejak hari pertama saya menjabat, saya percaya bahwa perang harus dikesampingkan. Tetapi jika mereka akan mencoba memaksakan kehendak mereka pada kami, mempermalukan kami dan menuntut kami menundukkan kepala dengan biaya berapa pun, haruskah kami menerima itu?" ujarnya.
Persiapan juga sedang dilakukan di Israel untuk kemungkinan bergabung dalam serangan bersama AS.
Dua pejabat pertahanan Israel mengatakan kepada The New York Times bahwa perencanaan saat ini membayangkan serangan selama beberapa hari dengan tujuan memaksa Iran membuat konsesi.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov memperingatkan bahwa konsekuensinya tidak baik dari setiap serangan baru AS terhadap Iran.
"Tidak ada yang menginginkan peningkatan ketegangan. Semua orang memahami ini adalah bermain api," kata Lavrov dalam wawancara dengan Al-Arabiya.
Lavrov mendesak AS untuk menghindari serangan dan mengizinkan Iran melanjutkan program nuklir damai.
The Wall Street Journal melaporkan bahwa Trump telah mendapat pengarahan mengenai opsi militernya dengan semuanya dirancang untuk memaksimalkan kerusakan, termasuk kampanye untuk membunuh puluhan pemimpin politik dan militer Iran, dengan tujuan menggulingkan pemerintah, menurut pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.