"Jika infrastruktur energi Iran diserang, maka seluruh infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi milik AS dan rezim di kawasan akan menjadi sasaran," demikian pernyataan yang dimuat kantor berita Fars.
Ancaman ini menandai eskalasi serius, di mana target serangan tidak lagi terbatas pada fasilitas militer, tetapi juga mencakup infrastruktur sipil vital seperti listrik, teknologi, hingga pasokan air.
Adapun situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya "perang energi", di mana fasilitas minyak, listrik, dan infrastruktur vital menjadi target utama.
Gangguan di Selat Hormuz sendiri telah membuat banyak kapal menghindari jalur tersebut, memperparah risiko pasokan energi global. Jika eskalasi berlanjut, pasar energi dunia berpotensi mengalami guncangan yang lebih dalam, termasuk lonjakan harga minyak dan gas serta tekanan inflasi global. dilansir cnbcindonesia.com