Kolaborasi tersebut terjalin di tengah upaya Pemerintah AS untuk melemahkan pengaruh Iran atas rantai pasok energi global di tengah konflik yang terjadi di Selat Hormuz.
Iran dan AS sebelumnya telah menandatangani sebuah nota kesepahaman pada pertengahan Juni 2026 yang membahas upaya untuk mengakhiri konflik antara kedua negara, yang dimulai dengan serangan AS ke Iran pada 28 Februari lalu.
Namun, sejak 8 Juli lalu, militer AS kembali melancarkan sejumlah gelombang serangan terhadap Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim rangkaian serangan tersebut merupakan balasan atas intervensi Iran terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Sementara itu, Iran merespons dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS yang berada di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Sepanjang fase pertama dari konflik tersebut, harga energi global melonjak tajam akibat gangguan pelayaran yang dialami kapal-kapal komersial dan tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz.
Pipa minyak Kirkuk-Baniyas pertama kali beroperasi pada tahun 1952. Sepanjang sejarahnya, operasional pipa tersebut sempat beberapa kali dihentikan, terutama saat terjadi sabotase selama masa Krisis Suez atau Perang Arab-Israel Kedua pada 1956.
Selanjutnya, Irak melakukan penutupan sepihak jalur pipa tersebut antara 1982-2000 karena dukungan Suriah terhadap Iran selama perang Irak-Iran.