Kesulitan utama terletak pada lokasi material yang sebagian besar terkubur di bawah reruntuhan fasilitas nuklir Iran yang telah dibom AS dalam Operasi Midnight Hammer pada Juni 2025.
Selain itu, uranium yang diperkaya hingga 60 persen itu berada dalam bentuk gas uranium hexafluoride di dalam silinder bertekanan, sehingga sangat berbahaya untuk ditangani.
Sebelumnya, pada putaran ketiga perundingan nuklir yang difasilitasi Oman di Jenewa pada akhir Februari 2026, AS dilaporkan mengajukan tuntutan ultimatum.
Washington menekankan agar Iran membongkar tiga fasilitas nuklir utamanya di Fordow, Natanz, dan Isfahan, serta menyerahkan seluruh stok uranium yang diperkaya, yang diperkirakan mencapai sekitar 10.000 kilogram.
Meskipun ada laporan mengenai kemajuan menuju "zero stockpiling" atau nol stok yang dimediasi Oman, perundingan tersebut sempat dilaporkan menemui jalan buntu karena Iran menolak tuntutan pembongkaran fasilitas.
Trump sebelumnya juga mengumumkan jeda lima hari dalam serangan terhadap fasilitas energi Iran. Namun, ia memperingatkan bahwa jika negosiasi tidak membuahkan hasil yang baik, pihaknya akan melanjutkan pemboman tanpa henti.