CARAPANDANG - Arab Saudi secara tegas menolak permintaan Amerika Serikat untuk menggunakan wilayah udara dan pangkalan militer kerajaan dalam mendukung operasi militer di Selat Hormuz. Penolakan ini menjadi faktor kunci yang memaksa Presiden AS Donald Trump menghentikan sementara operasi "Project Freedom" hanya setelah berjalan sekitar 36 jam.
Sebuah sumber resmi Kerajaan Arab Saudi yang dikutip stasiun televisi Al Arabiya pada Jumat (8/5/2026) membantah keras klaim yang menyebut Riyadh telah membuka akses wilayah udaranya untuk aksi ofensif AS.
"Kerajaan tidak mengizinkan penggunaan wilayah udaranya untuk mendukung operasi militer ofensif. Ada pihak-pihak yang mencoba memberikan gambaran yang menyesatkan tentang posisi Arab Saudi karena alasan yang mencurigakan," demikian pernyataan sumber tersebut.
Sikap Riyadh ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan regional pasca serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
Alih-alih mendukung operasi militer, Arab Saudi justru menyatakan komitmennya untuk meredakan eskalasi dan mendukung penuh upaya mediasi yang dipimpin oleh Pakistan untuk mencapai kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.
Keputusan mengejutkan dari sekutu dekat Washington itu dilaporkan membuat pejabat AS kaget. Menurut laporan The New York Times, Putra Mahkota Mohammed bin Salman merasa gerah dengan pengumuman sepihak "Project Freedom" oleh Presiden Trump melalui media sosial tanpa koordinasi terlebih dahulu.