"Latihan renang ini bukan hanya soal olahraga. Kegiatan ini memberikan anak-anak kesempatan untuk bermain, bersenang-senang, dan melepaskan diri sejenak dari kondisi yang berat di sekitar mereka."
Dia mengatakan bahwa keterampilan berenang juga memiliki manfaat praktis di Gaza, di mana banyak anak menghabiskan waktu di dekat laut. Dia menambahkan bahwa inisiatif tersebut juga memberikan penghormatan kepada enam instruktur renang yang tewas selama perang, termasuk saudara laki-lakinya.
Kebutuhan akan kegiatan semacam ini semakin terlihat dari dampak perang terhadap anak-anak di Gaza. Sejak Oktober 2023, lebih dari 21.500 anak Palestina tewas, sementara banyak lainnya terluka, menjadi yatim piatu, atau mengungsi, menurut kantor media pemerintah Gaza yang dikelola Hamas pada Juli.
Abdullah al-Jamal, direktur rumah sakit jiwa Gaza, menggambarkan situasi psikologis tersebut sebagai "sangat parah," terutama di kalangan anak-anak yang mengalami gangguan terkait perang dengan tingkat sedang hingga parah. "Anak-anak merasa tidak aman dan takut, yang berdampak negatif terhadap kehidupan mereka serta berisiko menimbulkan trauma dan gangguan jangka panjang," ungkap al-Jamal.
Sebuah survei pada 2024 menunjukkan bahwa 96 persen anak-anak di rumah tangga yang disurvei di Gaza merasa bahwa kematian sudah dekat, sementara 92 persen di antaranya kesulitan menerima kenyataan baru mereka.