Beranda Umum Amarah dan Paku

Amarah dan Paku

Ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantung paku dan mengatakan padanya untuk menancapkan satu paku di pagar kayu belakang rumah mereka setiap kali ia marah. Baru satu hari saja paku yang tertancap sudah berjumlah 50 buah.

0
Amarah bisa dikelola dengan menjaga lisan dan kesabaran

Namun ternyata tidak. Sang ayah mengumpulkan paku kembali dan mengangkat batang kayu. "Coba lihat, bagaimana bentuk batang kayu ini sekarang. Kayu yang tadinya tampak kokoh dan baik-baik saja, penuh luka dan banyak lubang di sekujur tubuhnya. Demikianlah saat kamu meluapkan emosimu kepada orang lain. Hati mereka terluka, sekalipun mereka tampak baik-baik saja," jelas sang ayah.

“Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang dan mencabutnya kembali tetapi tidak peduli berapa kali kamu meminta maaf, luka itu akan tetap ada dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik,” pungkas sang ayah.

Anda mungkin merasa bahwa orang di sekitar Anda baik-baik saja. Namun, jauh di lubuk hati mereka sedang terluka oleh emosi Anda. Sama halnya seperti paku, perkataan adalah sebuah senjata yang sangat kejam untuk melukai seseorang. Bukankah lidah lebih tajam daripada paku dan pisau?

Rasulullah, pernah ditanya sama sahabatnya, bagaimana cara mengelola amarah, maka dijawab Beliau jangan marah sampai diulangi tiga kali, hikmah bagi kita untuk selalu menjaga emosi dan lisan. Nasehat Beliau pula bila kita ingin selamat lebih baik diam saja, bila ada orang yang menghina/melecehkan kita, kita doakan saja dan adukan hanya pada Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkait
Berita Terkait