CARAPANDANG - Eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu penutupan sejumlah wilayah udara dan melumpuhkan bandara-bandara utama di kawasan Teluk telah memicu perubahan dramatis pada peta penerbangan global.
Dalam sepekan terakhir, China muncul sebagai hub transit alternatif utama bagi pelancong dari Asia dan Australia yang hendak terbang ke Eropa, seiring dengan lumpuhnya maskapai-maskapai Teluk.
Penutupan wilayah udara sejumlah negara di Timur Tengah, termasuk Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar, telah memaksa maskapai raksasa seperti Emirates, Etihad Airways, dan Qatar Airways untuk menghentikan sementara hampir seluruh operasi penerbangannya.
Kelumpuhan di bandara-bandara tersibuk dunia, seperti Dubai International Airport yang biasanya melayani lebih dari 1.000 penerbangan per hari, telah memutus "jembatan udara" utama antara Asia dan Eropa.
Akibatnya, arus penumpang yang biasanya transit di Dubai, Doha, atau Abu Dhabi dialihkan ke rute alternatif.
Data dari industri penerbangan menunjukkan bahwa China, dengan maskapai seperti Air China dan Cathay Pacific, serta hub di Hong Kong, menjadi salah satu tujuan transit utama yang baru.
Rute alternatif ini umumnya memutar melalui Kaukasus, Asia Tengah (seperti Uzbekistan dan Afghanistan), atau jalur selatan yang lebih panjang melewati Mesir, yang secara signifikan menambah waktu tempuh penerbangan.
Direktur Pelaksana Global Flight Centre Travel Group, Andrew Stark, mengonfirmasi fenomena ini.