Keempat, Terjebak dalam Adat (Kebiasaan), Bukan Ibadah. Banyak orang gagal karena mereka berpuasa hanya karena mengikuti arus sosial. Ibnu Rajab menyebutkan ada orang yang sangat malu jika ketahuan berbuka di siang hari −bahkan jika dipukul sekalipun mereka tetap bertahan− namun di saat yang sama, mereka tidak ragu melakukan zina atau mengambil harta orang lain secara zalim. Mereka berjalan di atas kebiasaan, bukan di atas tuntutan iman. Karena itulah beliau menyarankan puasa harus didasari iman bukan sekadar tradisi.
Kelima, Menjadikan Al-Qur’an sebagai Musuh. Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, namun bagi sebagian orang, Al-Qur’an justru akan menjadi penuntut (khashm) mereka di hari kiamat. Kegagalan besar adalah bagi mereka yang membaca Al-Qur’an namun mengabaikan hukum-hukumnya dan tidak mengamalkan isinya. Nabi bersabda: “Al-Qur’an akan diserupakan sebagai seorang laki-laki pada hari kiamat. Didatangkanlah seseorang yang membawanya (membacanya) namun menyelisihi perintahnya, maka Al-Qur’an pun berdiri menjadi penuntut baginya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)
Keenam, Racun Niat: Berencana Kembali Maksiat Pasca-Lebaran. Inilah poin yang sangat krusial. Ibnu Rajab menjelaskan bahwa salah satu tanda ditolaknya amalan seseorang adalah ketika ia berniat kembali pada kemaksiatan tepat setelah Ramadhan usai. Beliau mengutip perkataan Ka’ab Al-Ahbar: