Para WNI tersebut sebelumnya tidak dapat melanjutkan perjalanan akibat penutupan sementara sebagian wilayah udara di kawasan Timur Tengah menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik regional sejak akhir Februari 2026.
Penutupan ruang udara tersebut berdampak luas terhadap operasional penerbangan internasional, termasuk di sejumlah bandara utama, seperti Abu Dhabi, Dubai, dan Doha.
Situasi tersebut menyebabkan ribuan penerbangan dibatalkan dan membuat ratusan ribu penumpang di berbagai negara terjebak di bandara maupun kota transit di kawasan tersebut.
Seiring dengan membaiknya koordinasi keamanan dan pembukaan koridor penerbangan terbatas, maskapai-maskapai di UEA mulai mengoperasikan sejumlah penerbangan khusus, termasuk penerbangan repatriasi untuk membantu penumpang yang tertahan melanjutkan perjalanan mereka.
KBRI Abu Dhabi dan KJRI Dubai sebelumnya telah mendata puluhan WNI yang terdampak pembatalan penerbangan sejak penutupan wilayah udara tersebut.
Sampai saat ini, jalur udara yang dibuka di kawasan UEA masih relatif terbatas sehingga rute yang ada digunakan secara bergantian dan antre. Penerbangan sipil komersial belum dioperasikan dan hanya penerbangan repatriasi dan penerbangan khusus saja yang dijalankan untuk memobilisasi 20.000 pengunjung yang sempat tertahan di UEA.
Para WNI kemudian difasilitasi melalui komunikasi intensif, pendampingan konsuler, serta koordinasi dengan maskapai guna mendapatkan kursi pada penerbangan yang tersedia.