CARAPANDANG - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan keras mengenai situasi kemanusiaan di Sudan, di mana sekitar 12 juta warga negara itu kini terancam kelaparan di tengah konflik berkepanjangan yang telah memasuki hari ke-1.000. Badan-badan PBB menyebut krisis di Sudan sebagai darurat kelaparan terbesar di dunia saat ini.
Menurut laporan terbaru dari Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC) PBB, lebih dari 21 juta penduduk Sudan mengalami kerawanan pangan akut atau setara dengan sekitar 45 persen dari total populasi.
Dari jumlah tersebut, 12 juta orang berada dalam kondisi rawan pangan parah yang mengancam jiwa, terutama kelompok wanita dan anak-anak.
Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa persediaan bantuan pangan untuk Sudan berada di ambang kehabisan stok. WFP memperkirakan cadangan makanan akan habis total pada akhir Maret 2026 akibat krisis pendanaan yang parah.
Lembaga ini terpaksa memangkas jatah makanan hingga batas minimum untuk bertahan hidup, menempatkan jutaan nyawa dalam ancaman kelaparan ekstrem .
"Tanpa suntikan dana darurat, bantuan pangan yang menyelamatkan jiwa akan terhenti sepenuhnya," demikian pernyataan WFP yang dikutip Sabtu (14/2/2026).
Laporan PBB mengonfirmasi bahwa bencana kelaparan telah terjadi di wilayah El Fasher di Darfur Utara dan Kadugli di Kordofan Selatan. Setidaknya 20 daerah lain juga berisiko mengalami kondisi serupa jika bantuan internasional tidak segera mengalir.