“Mengapa membuang waktu untuk terus-menerus membuktikan betapa hebatnya Anda, padahal Anda bisa menjadi lebih baik? Mengapa menyembunyikan kekurangan alih-alih mengatasinya?" kutipan terkenal Carol S. Dweck, Ph.D., Profesor Psikologi dari Stanford University sekaligus penulis "Mindset: The New Psychology of Success" dikutip dari Good Reads.
"Semangat untuk terus mengembangkan diri dan kegigihan untuk menjalaninya bahkan (atau terutama) saat keadaan tidak berjalan mulus, merupakan ciri khas pola pikir berkembang (*growth mindset*). Inilah pola pikir yang memungkinkan seseorang untuk tetap tangguh dan berkembang pesat, bahkan di masa-masa paling sulit dalam hidup mereka,” tambahnya.
2. Merasa sudah tahu segalanya menghambat proses belajar
Kecerdasan yang tinggi terkadang membuat seseorang merasa sudah memiliki cukup banyak pengetahuan. Tanpa disadari, bisa muncul rasa percaya diri yang berlebihan sehingga lebih sulit menerima kritik, masukan, atau sudut pandang baru. Padahal, dunia terus berubah dan selalu ada hal-hal baru yang perlu dipelajari.
Sebaliknya, orang yang memiliki sikap rendah hati secara intelektual cenderung lebih terbuka terhadap informasi baru. Mereka menyadari bahwa pengetahuan yang dimiliki masih terbatas sehingga tidak ragu bertanya, berdiskusi, atau mengubah pendapat ketika menemukan bukti yang lebih kuat. Sikap inilah yang membuat proses belajar berlangsung sepanjang hayat.
3. Kemampuan teknis saja tidak cukup tanpa kecerdasan emosional